OLEH : PSIKOLOG FUDIN PANG DARI "ACCURATE" HEALTH CENTER MEDAN

Home

Senin, 01 Agustus 2011

Topeng Sosial

Pak, saya sedikit kesulitan berbicara dengan orangtua, terutama dari hati ke hati Pak, kalau bapak mengerti maksud saya.
Untuk Ibu, beliau orangnya keras, saya cukup sulit berbicara dengan beliau..

TERUTAMA masalahnya yaitu, ketika beliau membawa teman kantornya (laki-laki) berkunjung ke rumah kami.. Dan itu tiap hari Pak.
Saya kurang senang, terlebih lagi karena saya sulit sekali membicarakan masalah ini dengan ibu saya.
Mungkin bapak tidak mau menyinggung masalah agama, tapi biar bagaimanapun, permasalahan saya ini terkait dengan agama yang kami sekeluarga anut pak.
Dalam agama kami, pergaulan antara laki-laki dan perempuan itu hendaknya dibatasi sebelum terikat tali pernikahan.

Padahal ada ayah saya pak. Ah.. saya jadi pusing.
Ayah saya sangat tidak suka konflik. Jika terjadi suatu ketegangan, beliau lebih memilih mengalah dan bersabar, walaupun mungkin beliau bisa beralasan.
Tapi mungkin beliau orangnya cukup keras kepala, secara explisit mungkin tidak terlihat. Tapi terlihat ketika beliau ingin mengerjakan sesuatu dengan caranya sendiri.

Saya sudah pernah mengutarakan isi hati saya terkait masalah ini dengan mereka berdua. Namun reaksi yang saya terima bisa dibilang mengecewakan, dan teman ibu saya ini terus saja datang ke rumah hingga kini.

Ingin rasanya sekedar bertanya/ mengetahui apa sebenarnya kepentingan teman ibu saya ini sehingga harus terus datang ke rumah kami. Ada urusan apa?
Tapi hati saya terlanjur menciut pak. Berat bibir ini untuk menanyakan hal ini, baik itu kepada ibu saya, ayah saya, maupun langsung kepada teman ibu saya itu.

Dan mungkin perlu bapak ketahui, kedekatan ibu saya dengan temannya itu tak hanya sebatas dia berkunjung ke rumah kami pak.
Bahkan saat-saat di mana ibu, ayah, dan adik-adik saya bepergian ke mall atau ke pameran (jakarta fair, misalnya), teman ibu saya ini rajin ikut pak. Seakan dia ini sudah seperti keluarga sendiri saja.

Lalu masalah saya yang kedua.
Saya juga sulit mengungkapkan isi hati saya kepada teman-teman saya.
Ini juga sedikit terkait masalah agama.
Misalnya saja, saya ingin mengajak mereka ke tempat ibadah, atau sekadar menegur mereka ketika mereka ingin melakukan hal yang kurang baik menurut pemahaman beragama saya.

Saya merasa kurang bisa berteman dengan baik.
Saya tidak bisa menjaga pertemanan saya.
Sahabat itu butuh "menjadi apa adanya", tetapi saya sulit melakukan itu.
Saya sulit menjadi "apa adanya" di depan orang lain.
Ketika saya merasa saya memiliki kekurangan, langsung saya pasang tameng (muka sok cool, seperti tidak ada masalah)

Saya akhir-akhir ini sering kesal, karena saya seperti tidak menjadi diri saya sendiri.
Selalu memakai topeng ketika bertemu dengan orang lain. Apa yang sebenarnya saya rasakan, atau apa yang sebenarnya ingin saya ucapkan atau lakukan, sulit sekali diucapkan/ lakukan.

Pikiran, hati, jiwa, dan tindakan saya, seperti sulit dikendalikan..

Saya butuh ketenangan jiwa,
butuh teman untuk menyampaikan keluh kesah,
butuh orangtua yang "mengerti" apa yang anaknya butuhkan, bukan orangtua yang sekedar memberi uang jajan, .. karena saya merasa selama ini selalu dimanja orangtua..
Bukannya saya tidak bersyukur atau apa, tapi bukankah mampu berdiri sendiri adalah hal yang penting?

Saya juga butuh sahabat yang mengerti kalau saya salah dan mau menasihati saya, tapi ketika sudah datang yang seperti itu, malah saya sia-siakan.

Mohon pencerahannya Pak Fudin Pang, dan terima kasih sebelumnya. (kaskus.us)

Jb.

Permasalahan pertama, mungkin anda mencoba untuk mendekatkan diri terhadap ibu anda tanpa mencampuri urusan pribadi anda atau mendekatkan diri terhadap teman ibu anda tanpa mencampuri urusan pribadi orang sehingga anda bisa mengetahui setidaknya siapa teman ibu anda dan anda juga dapat menjaga keakraban bersama ibu anda tanpa rasa curiga yang berlebihan.

Pertama yang perlu dihilangkan adalah rasa curiga yang berlebihan dan bersikap hormat dan menghargai orang tua anda dan walaupun orang tua anda melakukan kesalahan, maka sadarkan dengan cara yang baik dan tidak melakukan sikap yang bodoh.

Permasalahan kedua adalah memang dalam berinteraksi sosial kita perlu menggunakan topeng sosial, misalnya kepada siapa kita berhadapan, kepada sifat apakah kita berinteraksi sehingga kita lebih mudah beradaptasi. Ketika kita sendiri maka kita dapat mengeluarkan sifat asli kita dan tidak memerlukan topeng sosial, namun bersama orang tua, keluarga maupun teman baik kita maka penggunakan topeng sosial janganlah terlalu berlebihan karena akan menyiksa diri kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar