OLEH : PSIKOLOG FUDIN PANG DARI "ACCURATE" HEALTH CENTER MEDAN

Home

Senin, 29 November 2010

Rumah Tangga di ambang Kehancuran

Mohon pencerahannya atas perasaan dan pikiran saya, terimakasih.

Saya menikahi Amara (bukan nama asli) karena kasihan. Amara adalah kakak mantan pacar saya. Amara datang ke tempat saya sewaktu hamil 4 bulan diluar nikah dg suami dan bapak orang. Saya merawat Amara sampai melahirkan bayinya.

2 bulan kemudian kita menikah karena saya berpikir menikah tanpa adanya paksaan atau ancaman hal (status bayi itu). Orang tua Amara tidak tahu kalo calon suaminya adalah mantan pacar adiknya. Saya minta untuk jujur kepada Amara tp ia menolak, akhirnya kita menikah hanya dengan Wali Hakim. Bayi itu sekarang sudah memiliki status.

Tahun pertama kita berdua tidak memiliki pekerjaan tp puji syukur Tuhan masih memberikan bantuan dari teman² untuk kita ber 3 hidup di desa. Tiba² Ibu mertua saya datang, mendengar cerita fitnah bahwa saya melarikan anaknya---hampir saya dikeroyak massa karena beliau adalah seorang pejabat. Tapi setelah dijelaskan semua tenang.

Tak lama kemudian anak kita diambil oleh mertua saya dengan alasan ekonomi---kita berdua harus mencari pekerjaan. Akhirnya kita keluar kota yg jauh dan hidup disana. Tahun pertama kita bekerja susah payah dan akhirnya dapat mengambil anak kita yg sedang diasuh mertua saya. 1 tahun kita tinggal bertiga dg damai. karena suatu hal saya keluar dari pekerjaan. Dan istri saya mulai kerja lagi, saya juga masih ada kerja part time jadi saya masih sempat mengasuh anak saya.

Mulai dari ini istri saya kerja dia sering tidak jujur terhadap saya. Bahkan dia beberapa kali bolos kerja karena tawaran klien dia untuk makan siang. Saya diam dan masih sabar. Tapi dia tidak mau berubah, akhirnya saya marah karena ia selalu sibuk dgn pekerjaannya sedangkan anak kita sedang sakit. Kita berantem sampai ancaman cerai. Tapi kita rukun kembali setelah saya dapat pekerjaan tetap kembali.

9 bulan kemudian saya ada masalah di kantor dan terpaksa saya harus berhenti. Kembali istri saya mulai cari kerjaan baru. Saya gantian yg mengasuh anak kita. Tak lama kemudian saya dapat pekerjaan baru. Kita berdua sama² kerja dan anak kita, kita titipkan di pengasuhan anak. hanya 1 minggu istri saya tidak betah. dan meminta orang tuanya mengambilnya kembali untuk diasuh. Saya tidak mengijinkan karena istri saya tertekan pekerjaan. Tapi dia ngotot, dan anak kita terpaksa pisah dg kita. Istri saya berjanji tidak akn kangen tp tiap hari selalu ingat anak kita terus. saya sering ajak jalan² sewaktu hari libur tp tetep saja dia selalu ingat.

6 bulan kemudian kita berdua keluar dari pekerjaan. dan saling menyalahkan. akhirnya kita pinjam uang ke masing² orang tua untuk hidup. Beberapa minggu Ibu saya menawari istri saya untuk pegang usahanya karena karena mau ditinggal ke luar negeri. Saya tidak mau karena saya sedang merintis usaha sendiri. Saya antar istri saya ke orang tua saya. selang 3 hari istri saya berubah pikiran dan ingin ikut dgn orang tua nya. Sejak itu kita sering berargumen sampai² istri saya selingkuh. Saya beritahu orang tua meraka tp tidak percaya meski saya punya bukti. Dan saya berani dipanggil ke Hukum. Dia melakukan hal itu melalui e-mail nya yg tidak sengaja saya check sewaktu dia pergi online di warnet. Dia tidak mengetahui kalau saya selama ini tahu password dia. Sampai saya menyaksikan sendiri dia chatting dengan orang lain dgn nafsu menggebu². Yang membuat saya gak habis pikir mereka saling menukar foto tanpa busana. 2 malam sejak itu saya tidak tidur di rumah. Saya tinggalkan istri saya. Tp, saya tetep gak tega saya tinggalkan rumah dan isinya untuk dia. Semua barang saya tinggalkan. Saya cuma pulang ke orang tua saya dgn kardus yg isinya pakaian dan dokumen saya. Orang tuanya meminta saya untuk menceraikan dia, dgn alasan dia tidak lagi cinta dgn saya. Saya turuti. Dan untuk menghilangkan rasa sakit hati saya, saya harus menjadikan istri saya jadi adik saya. Karena, hampir 5 tahun kita bersama sulit untuk melupakan.

Saya merasakan BENCI, SAKITHATI tapi saya juga masih merasakan KASIHAN, SAYANG. Sekarang ini kita sedang proses untuk cerai. JIka saya menuntut HAK keadilan maka banyak orang akan mengalami musibah.

Apakah ada orang yg bisa memberikan solusi bijaksana? (wihara.com)

Jb. Saya ikut prihatin dengan masalah yang anda hadapi.

Saran terbaik saya adalah jika memang anda berdua masih bisa merajut kembali hubungan rumah tangga anda maka apa salahnya saling mencoba dan memperbaiki diri agar tidak banyak orang juga yang tersakiti akibat rumah tangga anda berdua yang hancur.

Cobalah anda berdua pergi mencari seorang moderator, seperti mencari seorang psikolog menjadi penengah atas permasalahan kalian berdua, membenahi lagi kepribadian dan penerimaan karakter dan kelemahan kalian berdua, atau mencari seorang ahli agama untuk membantu mencari saran atas perselisihan rumah tangga anda berdua.

Cobalah untuk saling intropeksi diri dan mencoba untuk saling memaafkan dan membiarkan permasalahan ini berlalu dan kembali hidup normal seperti biasanya.. cobalah untuk melupakan trauma dan rajut cinta dan kasih sayang kembali...

Mencoba belajar adalah hal terbaik yang bisa anda lakukan dan jika memang tidak bisa lagi, maka jangan terakhir adalah musyawarah kepada beberapa pihak terkait agar tidak ada orang ikut tersakiti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar